Ode untuk Malaria

PERANNEWS.CO.ID

Pak SBY berangkat ke New York. Dia akan bicara tentang sesuatu yang sebenarnya asing di kota itu: Malaria. Di sana para pemimpin Asia Pasifik berkumpul, mereka membentuk aliansi untuk memerangi malaria.

Tentu yang mereka cemaskan tak ada di tempat itu, tapi di seberang benua di desa-desa endemik di antara hutan tropis. Selama berabad-abad malaria telah menjadi hantu di kawasan ini: India, Indochina, Indonesia, Filipina, hingga ke bagian utara Australia. Dan malaria telah menjadi bagian dari sejarah pergulatan sosial.

Sejak mulainya kolonialisme di Asia Pasifik pada abad 16, malaria menjadi momok bagi koloni eropa. Mereka sebenarnya tak tahu itu penyakit apa dan dari mana datangnya. Tapi malaria kerap membuat kematian massal tentara kolonial. Juga trauma oleh rasa sakitnya yang menyiksa: demam, keringat dingin, delusi.

Penyair inggris Siegfried Sassoon pernah menulis puisi tentang ini: Ode untuk Malaria. “Aku tenggelam dalam demam kubur, aku melayang seperti asap di kabut merah, dan kucicip cawan derita aneka rupa.”

Baru abad 20, manusia tahu jika malaria ditularkan oleh nyamuk anopheles. Sejak itu penanganan tidak hanya untuk mengobati, tetapi juga untuk mencegah dan memberantas. Kedokteran tak lagi hanya mengandalkan kulit pohon kina. tapi dengan berbagai penemuan modern. Salah satu yang terpenting adalah distribusi kelambu yang diimpregnasi pestisida.

Tapi Hingga abad ini, Malaria tak mati-mati. Ia justru mengalami resistensi terhadap obat-obatan dan pestisida. Parasite Plasmodium falciparum, salah satu jenis malaria yang paling mematikan, mulai menunjukkan kekebalannya terhadap chloroquine, yang telah menjadi pengobatan utama sejak tahun 1940-an.

Manusia terus berperang dengan malaria. Berbagai lembaga dan organisasi internasional terus melakukan inovasi untuk memberantas penyakit ini. termasuk Aliansi Pemimpin Asia Pasifik untuk Malaria, APLMA yang dibentuk pada 2013. Targetnya, 2030 Malaria bisa terhapus di Asia Pasifik.

Hari ini Pak SBY berangkat ke New York. Ia akan bergabung di APLMA dan menjadi penasehat, dan ia akan menyampaikan pidatonya disana. Kita tak tahu apa yang akan ia ucapkan. Tapi kita tahu betapa beratnya tantangan malaria di negeri ini. apalagi jika kita ingat, ada begitu banyak bekas lubang tambang yang menganga di mana-mana, yang menjadi tempat sempurna berbiaknya nyamuk anopheles. Mungkin peperangan itu masih panjang.

Oleh: Khairul Anom, Wartawan RILIS.ID

sumber : rilis.id

BACA JUGA :

KPP HAM Lampung Desak Polisi Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS

Komite Pemantau Pembangunan dan Hak Asasi Manusia (KPP HAM) Lampung mengecam keras aksi penyiraman air …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *