Minyak Sawit Indonesia Bakal Jadi Pemain Dunia, Ini Alasannya

PERANNEWS.CO.ID − Jakarta − Industri minyak sawit di Indonesia bakal menjadi game changer sawit dunia. Hal itu karena serapan hasil dari tandan buah segar (TBS) sawit bukan hanya sebagai bahan Crude Palm Oil (CPO).

Melainkan lebih modern dengan menjadi Degummed Palm Mesocarp Oil (DPMO) yang merupakan hasil olahan dari palm mesocarp oli (PMO) serta bahan biofuel B40 yakni bahan bakar minyak nabati dari sawit.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Dewan Sawit Minyak Indonesia (DSMI), Sahat Sinaga, dalam sebuah talk show salah satu portal berita nasional.

Dengan peningkatan hasil akhir sawit itu, secara langsung akan berdampak dengan naiknya harga komoditas tersebut.

Dalam kesempatan itu, Sahat menjelaskan jika sudah saatnya bagi Indonesia untuk menjadi pemain yang mampu mengubah arah arus utama sawit dunia. Dua dari tiga jenis hasil minyak sawit tersebut, yakni DPMO dan biofuel menjadi tanda re-branding minyak sawit Indonesia dan mendorong pengembangan minyak sawit bernilai tinggi.

Dengan mengubah pola selama ini dimana minyak sawit hanya diproduksi menjadi CPO atau minyak mentah, kini dengan sentuhan inovasi baru yakni menurunkan kandungan Free Fatty Acid (FFA), dengan proses re-esterifikasi menjadi DPMO yang lebih bernilai ekonomi tinggi.

Dengan olahan menjadi DPMPO, kata Sahat, minyak sawit akan terjaga mikronutrisi alaminya. Kemudian prosesnya sendiri sangat ramah lingkungan karena rendah emisi karbonnya.

Lebih jauh, produksi DPMO dapat dilakukan bahkan oleh petani skala kecil.

“Selain stabil terhadap oksidasi. Investasi DPMO ini relative terjangkau untuk para petani sawit (berkelompok),” ujarnya.

Ia mengklaim dari kandungan nutrisi dan vitaminnya, DPMO menjadi bahan yang sangat baik untuk dikonsumsi bahkan untuk ibu hamil agar meningkatkan sel perkembangan otak bayi dalam kandungan.

Sahat juga mengatakan dari hasil penelitian yang dilakukannya bahwa kandungan vitamin yang ada di dalam minyak sawit dengan inovasi proses tersebut jauh lebih baik dari minyak zaitun (olive oli).

Ketua DSMI itu menambahkan ekspektasi masyarakat sawit di Indonesia adalah lepas dari bayang-bayang proteksionis produsen minyak nabati dunia lainnya yang secara langsung mengoperasikan PO Mill penghasil DPMO.

Terakhir ia menyebutkan jika inovasi yang minyak sawit ditingkatkan menjadi DPMO itu bukan hanya mengubah cara pandang dunia terhadap minyak sawit akan tetapi menjadi pelaung pasar baru yang lebih luas dan sustainable.

Sedangkan minyak sawit menjadi bahan campuran solar 40 persen atau B40 di Indonesia juga sudah berjalan.

Hal itu diungkapkan Kepala Balai Besar Survei dan Pengujian Ketenagalistrikan, Energi Baru, Terbarukan dan Korversi Energi, ESDM, Harris mengatakan biofuel B40 tinggal menunggu waktu untuk diterapkan.

“Tahap uji B40 sudah selesai, tinggal penerapan. Sama seperti B35 yang diterapkan pada 2021 lalu,” kata Harris di Jakarta.

Bahkan secara teknologi, katalis yang sudah beredar sudah bisa dipakai untuk diesel B100, tinggal studinya. Sekarang sudah uji jalan pada B40,” terangnya.

Jika diterapkan, maka kebutuhan CPO sebagai bahan bakar biofuel saja sudah cukup dari hasil dalam negeri. Dengan demikian, Indonesia tidak bergantung lagi terhadap nilai ekspor yang ditentukan oleh luar negeri.

sumber : rilis.id

BACA JUGA :

KPP HAM Lampung Desak Polisi Ungkap Pelaku Penyiraman Air Keras terhadap Aktivis KontraS

Komite Pemantau Pembangunan dan Hak Asasi Manusia (KPP HAM) Lampung mengecam keras aksi penyiraman air …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *