PERANNEWS.CO.ID
Oleh Prof. Sudjarwo*
Beberapa waktu lalu, Herman Batin Mangku (HBM) mengirim video pendek yang bermuatan juke. Sepertinya, dia lagi eksperimen membuat “mainan baru” masuk ke wilayah jurnalistik nonmainstrem alias “jurnalistik pop”.
Di era digitalisasi dan praktis, pesan yang hendak disampaikan tidak harus dibaca dengan mengkerutkan kening. HBM seperti hendak mencoba masuk ke wilayah yang lebih renyah dan gembira tersebut.
HBM yang selama ini terkesan serius dan menyampaikan pesan terkesan “berat” lewat opini dan berita agaknya mencoba membuka “tarian baru” dalam menapaki takdirnya sebagai jurnalis.
Sebagaimana Djalaludin Rumi “menari bersama irama takdir”. Meski ungkapan ini bukan kutipan langsung, interpretasi dari ajaran-ajarannya mencerminkan pandangan sufistik yang mendalam tentang penyerahan diri, keterhubungan dengan semesta, dan keindahan dalam menerima hidup sebagaimana adanya.
Dalam sufisme, termasuk ajaran Rumi, ada konsep untuk menyerahkan diri sepenuhnya kepada kehendak Tuhan. Menari” di sini bukan pasif, tapi bentuk aktif dari penerimaan. Seperti penari yang mengikuti irama, kita diajak untuk menerima hidup dan segala perubahan tanpa perlawanan, tapi dengan kesadaran dan keindahan.
Menari bersama irama takdir juga berarti selaras dengan alur semesta. Kita tidak memaksakan kehendak kita, tapi belajar bergerak dengan ritme yang diberikan Tuhan—baik itu suka maupun duka.
Oleh karena itu dalam praktik sufi Mevlevi (pengikut Rumi), tarian sema (whirling dervish) adalah bentuk doa. Putaran mereka melambangkan perjalanan spiritual dari keterikatan dunia menuju kedekatan dengan Tuhan.
Ini adalah tarian jiwa yang “menari bersama takdir”, bukan menolak, tapi menyatu. Tarian itu seolah ingin menghapus ego. Saat menari mengikuti irama takdir, kita belajar melepaskan keakuan—membiarkan diri hanyut, percaya bahwa apa pun yang datang adalah bagian dari rancangan Ilahi.
Jika diterjemahkan secara sederhana: “Jangan melawan arus kehidupan, tapi temukan keindahan di dalamnya. Seperti penari yang tak menciptakan musik, tapi mampu membuat geraknya jadi puisi. ”
Dalam konteks Rumi, menari bersama takdir berarti kita tetap bergerak dengan anggun meskipun musiknya berubah. Kadang hidup memainkan lagu yang berbeda dari yang kita harapkan, tetapi kita tetap bisa menemukan makna di dalamnya—bukan dengan menyerah, akan tapi dengan menyesuaikan langkah.
Oleh karena itu ada ungkapan puitis Rumi yang terkenal :“Mungkin bukan jalannya yang salah, tapi memang sedang diajak menari ke arah lain.”
Rumi juga mengajarkan bahwa kepercayaan pada proses adalah bagian dari menari itu sendiri. Tidak semua langkah dalam tarian harus kita pahami sekarang. Tapi dengan tetap bergerak, tetap bernapas, tetap hidup—kita sebenarnya sedang ikut dalam irama semesta.
Menari bersama takdir adalah cara untuk tidak tenggelam dalam kesultan, akan tetapi mengubah rasa itu menjadi gerak yang puitis. Bukan memaksakan diri untuk “move on”, tapi mengizinkan diri untuk ikut irama rasa itu, perlahan, hingga berubah menjadi keikhlasan.
Tampaknya HBM sedang menikmati menari bersama irama takdirnya; terobosan jurnalistik selalu dia lakukan agar tetap bergerak dalam pusaran keindahan kehidupan.
Hidup yang indah itu bukan yang monoton, akan tetapi yang penuh warna dengan segala macam riak dan gelombangnya. Nahoda yang hebat bukan yang selalu berlayar di laut tenang, akan tetapi diterpa oleh ganasnya gelombang laut lepas yang menghadangnya.
Selamat berinovasi dan berimprovisasi buat HBM, jalurmu sudah benar, kompasmu sudah tepat, tinggal bagaimana membawa Cadik itu ditengah gelombang sehingga selamat sampai tujuan.
Salam Waras
* Guru Besar Universitas Malahayati Lampung
sumber : heloindonesia.com
Peran News Akurat dan Terpercaya