PERANNEWS.CO.ID – Bandar Lampung – Pasrah, itu kata yang pertama warga Kelurahan Bakung Teluk Betung Barat (TBB) tepatnya yang tinggal di sekitar Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Bakung Bandar Lampung.
Bahkan warga mengaku hidungnya sudah kebal dengan aroma tak sedap sampah maupun air limbah yang mengalir di drainase atau sungai skitar rumah mereka.
Di lokasi, Rilis.id Lampung melihat jelas, aliran sungai dangkal itu, bukan lagi berupa air jernih atau keruh. Melainkan aliran berwarna coklat kehitaman mengalir sepanjang sungai.

Yang jika disusuri, hulu aliran sungai itu adalah lubang pembuangan kolam pembuangan air limbah atau Lindi di TPA Bakung.
Bukan hanya hitam, tetapi bau tak sedap juga menyeruak dari sungai tersebut.
Ditemui di lokasi sekitar, Warga sekitar Dian (40), bercerita bagaiman dirinya dan keluarga yang terpaksa harus berteman dengan bau tak sedap itu selama 20 tahun.
Dn mengaku, sejak dirinya baru tinggal di wilayah tersebut, kondisi sungai memang sudah seperti ini.
“Memang, sampah di TPA Bakung itu lebih dulu ada dari pada kami, tapi dulu tidak setinggi itu,” ujarnya.
Sekarang, lanjut Dn, sampah sudah melebih tinggi tembok pembatas, khawatir jika terus bertambah pembatas bisa saja roboh.
“Kemarin pernah roboh, itu sampahnya ke rumah warga. Dibangun lagi justru tembok lebih pendek,” katanya.
Dn juga menceritakan, jika hujan deras, warga sini akan diserang bau menyengat yang tidak sedap.
“20 tahun lebih kita merasakan hal ini,” ujarnya sembari tertawa.
Hal serupa juga dirasakan Ibu Linda (LN), selain bau tak sedap, warga juga harus bisa memaklumi dengan banyaknya lalat disekitar rumah.
“Kami warga khawatir, jika ini terus-terus dibiarkan, akan berpengaruh dengan kesehatan, terutama anak-anak,” katanya.
Menurutnya, dirinya dan beberapa warga tidak bisa menggunakan air sumur, karena sudah bau dan kotor.
“Jadi kita pakai air galon, dan PAM untuk mandi-mandi dan masak,” ujarnya.
Harapan warga tidak muluk-muluk, apabila memang bisa dipindah, warga sangat bersyukur. Tetapi kalau tidak bisa dipindah, setidaknya pengelolaannya lebih baik.
“Karena mau minta kompensasi juga tidak ada, ada beras mie, dan minyak itu juga cuma sekali,” katanya.
sumber : rilis.id
Peran News Akurat dan Terpercaya