Pengaruh Kesehatan Mental terhadap Generasi Z

Oleh Malca Rafa Mutiajaya

PERANNEWS.CO.ID, BANDAR LAMPUNG – Artikel ini ditulis oleh Malca Rafa Mutiajaya

Dilansir dari data Kementrian Kesehatan, sebanyak 6,1% penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan mental. Lantas apakah pentingnya kesehatan mental tersebut mempengaruhi kualitas Putra-Putri bangsa beberapa tahun mendatang?

Generasi Z atau sering disebut Gen Z sedang ramai-ramainya gencar dengan kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi, namun disamping itu beberapa pendapat yang menyatakan bahwa rata-rata para pekerja Gen Z terlalu mempermasalahkan ‘Mental Health’ secara berlebihan, hal tersebut tentu merugikan untuk sebagian orang yang bekerja sama dengan Gen Z. Adapun faktor yang diduga menjadi akar dari pengaruh kesehatan mental Gen Z adalah Teknologi itu sendiri.

Teknologi yang di dalamnya terdapat media sosial tentu saja sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Generasi Z, tidak diherankan lagi banyaknya informasi yang bisa disampaikan oleh sebagian kalangan yang ingin menyuarakan pendapatnya terkadang tidak tersaring dengan baik oleh mereka. Berbagai informasi yang menyuarakan kesehatan mental menjadi timbal balik yang menimbulkan fear of missing out (FOMO) dan tidak sedikit Gen Z yang masih dalam masa pertumbuhan menyalah-artikan informasi tersebut, akibatnya berbagai gangguan kesehatan mental didapatkan dengan Self Diagnosed.

Dengan berbagai banyaknya kasus kesehatan mental, Generasi Z dituding generasi yang lemah akan terkenanya mental health, benarkah hal tersebut? Pernyataan tersebut ramai dibicarakan oleh generasi sebelum Gen Z, mereka menuding bahwasanya hal-hal yang dapat merusak mental health seseorang adalah hal yang tidak perlu dibesar-besarkan selayaknya Gen Z. Hal ini juga dapat dilihat dari perbedaan cara saat menghadapi suatu tekanan dalam dunia pekerjaan, generasi sebelum gen Z cenderung akan beradaptasi dengan tekanan yang di dapat, sedangkan gen Z akan langsung menemui psikolog ataupun psikiater.

Adanya perbedaan dalam menangani situasi tersebut, menyatakan bahwa Gen Z adalah generasi lemah akan mental, nyatanya pernyataan tersebut tidak sepenuhnya benar. Perbedaan pola asuh juga menjadi salah satu faktor adanya perbedaan tersebut, seperti Gen Pre-boomer cenderung akan melahirkan pola asuh yang sangat berbeda dengan pola asuh yang di dapat Gen Z, hal ini didapat karena Gen Pre-boomer hidup ditengah kekacauan dan krisis global.

Pola asuh tersebut terus berlanjut hingga menimbulkan generasi yang terbiasa dengan pola asuh yang keras, pada akhirnya lahirlah Gen Z yang dibesarkan dengan harapan timbulnya generasi yang sehat dan peduli akan mental.

Kesehatan mental merupakan hal yang sangat penting untuk keberlanjutan hidup generasi bangsa, akan tetapi penerapannya harus lebih diperhatikan oleh faktor eksternal, salah satunya pemerintah. Pemerintah memiliki peran penting dalam memberikan sarana dan prasarana seperti layanan kesehatan mental, serta pengaduan permasalahan mental yang mudah dan cepat untuk ditangani. Diharapkan dengan adanya peran aktif dari pemerintah dan masyarakat itu sendiri, dapat menekan angka kasus gangguan mental di negara ini. Dalam hal ini, generasi ex harus bisa mengerti bahwasannya kesehatan mental bukan sesuatu hal yang dapat dianggap remeh, serta tidak dipungkiri Generasi Z seharusnya lebih bijak dalam memahami kesehatan mental itu sendiri, sehingga tidak terjadi salah pengartian.

BACA JUGA :

75 Siswa Terpilih sebagai Peserta Sekolah Rakyat Lampung, Program Mulai Juli 2025

PERANNEWS.CO.ID – Bandar Lampung – Sebanyak 75 siswa dari 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung resmi ditetapkan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *